3 Kandidat Kuat Pengganti Panglima TNI, Semuanya Mumpuni | NUSAWARTA | Berita Indonesia

Breaking

logo

June 23, 2020

3 Kandidat Kuat Pengganti Panglima TNI, Semuanya Mumpuni

3 Kandidat Kuat Pengganti Panglima TNI, Semuanya Mumpuni

NUSAWARTA - Hadi Tjahjanto memasuki masa pensiun dari jabatannya sebagai Panglima TNI Marsekal. Sejumlah nama kandidat pengganti pun mulai mencuat. Hadi akan memasuki masa pensiunnya pada November 2021, tepat ketika dirinya berusia 58 tahun.

Berdasarkan Pasal 53 UU Nomor 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia, itu merupakan usia pensiun perwira TNI. Adapun pasal tersebut berbunyi, ”Prajurit melaksanakan dinas keprajuritan sampai usia paling tinggi 58 (lima puluh delapan) tahun bagi perwira dan 53 (lima puluh tiga) tahun bagi bintara dan tamtama”. Meski batas masa pensiunnya masih lebih dari setahun lagi, kabarnya ia akan diangkat sebagai duta besar.

Lantas, siapa sosok pengganti panglima TNI? Berikut tiga nama kandidat kuat penggantinya.

KASAD Jenderal Andika Perkasa

Jenderal Andika Perkasa merupakan lulusan Akademi Militer (Akmil) angkatan 1987 yang lahir pada 21 Desember 1964 di Bandung. Setelah mengenyam pendidikan di Akmil, Andika ditugaskan sebagai Komando Pasukan Khusus (Kopassus).

Ketika bergabung bersama Kopassus, Andika mengawali kariernya sebagai komandan peleton yang kemudian dipromosikan menjadi Komandan Unit 3 Grup 2. Sejak saat itu, jabatannya pun kian melesat menjadi Tim 2 Detasemen 81 Kopassus (1991), Den 81 Kopassus (1995), Danden-621 Yon 52 Grup 2 Kopassus (1997), Pama Kopassus (1998), dan Pamen Kopassus (1998).

Dilansir dari tagar.id, ia juga pernah menjabat sebagai Kepala Seksi Kajian Strategis Hankam di Departemen Pertahanan. Lalu mulai dari tahun 2003 hingga 2011, dirinya mendapat pendidikan militer di Washington DC, Amerika Serikat dan berhasil mendapat gelar master.

Setelah lulus, jabatannya pun kembali melesat, pada tahun 2013 ia diangkat sebagai Kolonel, lalu di akhir tahun 2013 ia diangkat menjadi Brigadir Jenderal dan Kepala Dinas Angkatan Darat. Setahun berselang, ia dipromosikan dan diminta oleh Presiden Joko Widodo untuk menjadi Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres).

Selanjutnya di tahun 2018, ia menjebat sebagai Pangkostrad, namun jabatan tersebut hanya sebentar sebelum akhirnya ia kembali dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD).

Semenjak menjadi KSAD, menantu mantan Kepala Badan Intelijen Negara A.M Hendropriyono ini mulai dikenal luas masyarakat ketika dirinya memerintahkan seluruh rumah sakit yang berada di naungan TNI AD untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat sipil terkait penanganan pandemi COVID-19.

KASAU Marsekal Fadjar Prasetyo

Marsekal Fadjar Prasetyo merupakan pria kelahiran 9 April 1966. Ia memulai kariernya di dunia militer sebagai penerbang A-4 Skyhawk di Skuadron 11 Lanud Sultan Hasanuddin pada tahun 1990 hingga 1995.

Lalu sejak 1995 Fadjar dipercaya untuk menjadi perwira penerbang di Skuadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma. Dia menerbangkan pesawat Fokker F-28 dan Boeing B-707.

Tak lama berselang, dirinya ditunjuk menjadi Komandan Skuadron Udara 17 dan menerbangkan Boeing 737-200. Fadjar juga sempat menjadi Atase Pertahanan dan menjadi Direktur Pendidikan dan Latihan (Dirdiklat) Komando Pendidikan dan Latihan Angkatan Udara.

Dikutip Beritasatu, Setelah pada selang waktu 2016-2018 Fadjar menjabat sebagai Danlanud Halim Perdanakusuma ke-39, kariernya kian melejit dengan menjabat sebagai Panglima Komando Operasi TNI AU (Pangkoopsau) I pada tahun 2018-2019.

Sejumlah operasi yang dilaksanakannya pun terbilang sukses, seperti operasi Lintas Rajawali, Tangkal Rajawali, Kawal Rajawali, Sayap Rajawali, Lintas Udhaya, serta latihan Jalak Sakti. Bahkan dalam sejumlah operasinya itu ia mendapat predikat zero accident atau nol kecelakaan.

Aksi Fadjar yang membuat dirinya dikenal oleh publik adalah ketika ia memerintahkan untuk membantu pemerintah dalam berbagai kegiatan kemanusiaan, seperti Operasi TMC, menangani kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera dan Kalimantan, penanggulangan bencana gempa bumi di Palu, serta evakuasi korban unjuk rasa di Wamena.

Selain itu, ia juga membuat kegiatan bakti sosial dengan program pembagian sembako, bedah rumah, renovasi tempat ibadah, operasi mata katarak, hingga sejumlah pengobatan gratis lainnya.

KASAL Laksamana Yudo Margono

Laksamana Yudo Margono merupakan lulusan Akademi Angkatan Laut (AAL) 1988 yang lahir di Madiun pada 26 November 1965. Pengalamannya di dunia militer terbilang banyak.

Sejumlah jabatan pernah dirasakannya, seperti Komandan KRI Ahmad Yani-351 pada tahun 2006, Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Sorong tahun 2008. Kemudian Komandan Satuan Kapal Cepat Koarmatim tahun 2010, Komandan Satuan Kapal Eskorta Koarmatim tahun 2011, Komandan Komando Latihan Koarmabar tahun 2012, dan Paban II Sopsal tahun 2014.

Selanjutnya pada kurun waktu tahun 2015 hingga 2018, Margono sempat menjabat sebagai Komandan Lantamal I Belawan, Kepala Staf Koarmabar, Panglima Komando Lintas Laut Militer (Pangkolinlamil), dan Panglima Komando Armada I (Pangkoarmada I) dengan pangkatan laksamana muda.

Setelah itu, Margono menjabat sebagai Panglima Kogabwilhan I pada 2019. Jabatan barunya itu sebagai Pangkogabwilhan I membuat karier Yudo Margono makin meleseat dengan prestasi keberhasilannya dalam melaksanakan misi-misinya.

Mulai dari tugas operasi militer maupun operasi bantuan kemanusiaan, seperti Operasi Siaga Tempur Laut berupa pengusiran kapal ikan asing yang berada di Laut Natuna, Operasi Kemanusiaan Penanganan Covid-19 dengan membawahi empat komando tugas gabungan terpadu (kogasgapad), yaitu di Natuna, Pulau Sebaru, RSD Pulau Galang, dan RSD Wisma Atlet Kemayoran.

Atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara, berbagai tanda jasa bintang dan satya lencana berhasil ia peroleh. Antara lain Bintang Yudha Dharma Pratama, Bintang Yudha Dharma Nararya, Bintang Jalasena Pratama, Bintang Jalasena Nararya, Satya Lencana VIII, Satya Lencana Kesetiaan XVI, Satya Lencana Kesetiaan XXIV, Satya Lencana Dwidya Sistha, Satya Lencana Kebaktian Sosial, Satya Lencana Wira Dharma (perbatasan), Satya Lencana Wira Nusa, Satya Lencana Dharma Nusa dan Satya Lencana Dharma Samudera.

Tak main-main, sejumlah pendidikan militer pernah dirasakan olehnya, seperti Laksamana TNI Yudo Margono selain di AAL. Seperti Sus Paja (1988), Sus Korbantem (1989), Sus Perencanaan Operasi Amphibi (1990), Sus Pariksa Angkatan-18 (1992), Dikspespa Kom Angkatan-9 (1993), Diklapa-II/Koum Angkatan-11 (1997), Seskoal Angkatan-40 (2003), Sus Keankuman TNI AL (2007), Sesko TNI Angkatan-38 (2011), dan Lemhannas RI (PPSA) Angkatan-52 (2014).

Selain itu, Yudo juga mendapatkan beberapa brevet, antara lain Brevet Atas Air, Brevet Selam TNI AL, Brevet Kavaleri Marinir Kelas I, Brevet Hiu Kencana, Brevet Kopaska, dan Brevet Kesehatan TNI AL. Siapa pun nanti yang akan menjadi Panglima TNI, semoga bisa membuat Indonesia lebih baik lagi. [hps]