Breaking

logo

June 23, 2020

Cerita John Kei Telah Jadi Pendeta, Tapi Tak Kapok Masuk ke Lembah Hitam

Cerita John Kei Telah Jadi Pendeta, Tapi Tak Kapok Masuk ke Lembah Hitam

NUSAWARTA - Tinta hitam kembali ditorehkan John Refra Kei. Tokoh preman kenamaan Tanah Air itu kembali membuat geger publik di Tanah Air. Dia bersama gerombolannya diduga terlibat dalam pembunuhan berencana yang menewaskan Yustus Corwing Rahakbau Kei (46 tahun).

Pria yang lahir di Tutrean, Pulau Kei, Maluku Utara, pada 10 September 1969 itu memerintahkan kelompoknya menghabisi nyawa sang paman, Nus Kei dan Yustus dalam penyerangan di Perumahan Klater Australia Green Lake City Kota Tangerang, Banten, Minggu siang, 21 Juni 2020.

Nus Kei selamat dari serbuan kelompok John. Namun anak buahnya, Yustus harus meregang nyawa dengan luka pada sekujur tubuh akibat dianiaya anak buah John di Jalan Kresek, Cengkareng, Jakarta Barat.

Nama John pun kembali heboh dibahas publik. Terlebih aksi gagah gerombolannya tersebar di jagat maya, baik rekaman video dan foto. Atas aksinya pula, baik satpam dan ojek online terluka.

Jadi Pendeta

Publik tentu terkejut-kejut dengan aksi John, sebab dia belakangan memberi petunjuk kalau dirinya sudah insyaf, dan mau menjauhi dunia kelam.

John sendiri baru menghirup udara bebas menjelang Natal 2019 lalu. Dia bebas dari Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan Cilacap (Jawa Tengah) setelah Kemenkum HAM memberi pembebasan bersyarat berdasarkan Surat Keputusan Menteri Hukum dan HAM RI Nomor Pas-1502.PK.01.04.06 Tahun 2019/tertanggal 23 Desember 2019.

John Kei juga tercatat bahwa dirinya telah mengabdikan diri menjadi pendeta setelah mendapatkan ‘petunjuk’ kehidupan selama menjalani penahanan di Lapas Nusakambangan. Demikian disitat Antara, Selasa 23 Juni 2020.

Hal itu dibenarkan seorang warga di dekat tempat tinggal John, berinisal G. Dia mengatakan, sejak keluar dari penjara, John Kei lebih sering berada di rumah.

John lebih sering berkegiatan di dalam rumah maupun area sekitar rumah. Demikian disitat WartaKota.

“Iya digerebek, ini kan ada messnya, JK nya juga ada di rumah, enggak ke mana-mana dia pas sudah keluar dari Nusakambangan,” kata dia.

Warga yang telah cukup lama tinggal di area perumahan itu menyebut John Kei lebih religius usai keluar dari Nusakambangan. John disebut juga menjadi Pendeta.

“Juga jadi pendeta kok, panggilan ke mana-mana tuh, gereja-gereja mana saja dipanggilin,” ucapnya.
Sementara itu, pengakuan lain disampaikan seorang warga lainnya. Warga yang tak menyebutkan namanya itu bilang, sejak keluar dari penjara, John Kei sering beraktifitas di rumah.

Bahkan sering melihat dia olahraga jalan santai di jalan komplek perumahan tiap pagi dan sore.

Sebelum penangkapan, kata warga itu, John Kei pagi harinya juga terlihat lari pagi di area komplek perumahannya.

“Paginya saya lihat, olahraga jalan di sini. Sering memang kegiatan di situ,” katanya.

Janji Tobat John Kei

Sebelum ditangkap John Kei sebelumnya mengaku sudah tobat atas aksi dunia hitam yang dulu sering dipraktekannya. Dia bahkan menyatakan hidupnya telah dekat dengan Tuhan melalui banyak berdoa selama di penjara atas kasus pembunuhan pengusaha Tan Hari Tantono alias Ayung.

Pengakuannya tertuang dalam sebuah wawancara staf Kantor Staf Kepresidenan (KSP), Ratna Dasahasta, dengan John Kei di Nusakambangan. John bercerita tentang kehidupannya masa kini yang lebih baik dibanding masa lalunya. John menghabiskan waktunya untuk berdoa.

“Sekarang saya tidur jam tujuh (malam), bangun jam setengah tiga (dini hari), baca doa sampai jam enam pagi. Paling jam pagi keluar main catur, nanti siang tidur lagi, baca firman. Di Nusakambangan ini saya dekat sama Tuhan,” ujar John, yang dikutip dari wawancara di YouTube, pada 16 November 2018.
Tobatnya itu dia lakukan, setelah sebelumnya dia sempat berulah pada 7 November 2017, di mana John dan kelompoknya terlibat perkelahian dengan napi teroris. Akibat peristiwa itu satu napi tewas dan tiga orang terluka.

Meskipun sempat berulah, perlahan John pun mengalami perubahan. Terpidana kasus pembunuhan itu mengaku bertobat. Sampai kemudian bebas bersyarat pada Desember 2019 lalu.

John mengatakan, waktu pertama kali masuk ke Nusakambangan dia masih labil. Setelah beberapa tahun di Nusakambangan, John sempat dipindah ke lapas high risk atau lapas dengan pengawasan ketat.

John menjelaskan, di lapas high risk itulah dirinya sadar akan hidup. Ia mengakui tidak sehebat yang dia pikirkan jika hanya hidup seorang diri.

“Semua orang menyimpan masa lalu. Semua orang menuju masa depan. Di sini kami dibina, untuk menjadi manusia baru. Ketika bebas nanti, kuserahkan hidupku untuk melayani tuhan,” katanya kala itu. [hps]