Breaking

logo

June 30, 2020

Closed Up Wajah Dongkol Cermin Reputasi Jokowi Dipertaruhkan

Closed Up Wajah Dongkol Cermin Reputasi Jokowi Dipertaruhkan

NUSAWARTA - Rapat kabinet itu hari Kamis, tanggal 18 Juni. Rekaman video rapat kabinet itu dirilis 10 hari kemudian.

Publik terkejut. Ada apa dengan Kabinet Indonesia Kerja Jilid II?

Fakta bahwa Jokowi kesal, mangkel, marahnya sampai naik ke ubun-ubun itu jelas terlihat. Bahkan jika kita closed up wajahnya tampak geram campur dongkol.

Kita bertanya-tanya. Kabinet rapat 18 Juni, mengapa videonya dirilis 28 Juni?

Kita boleh menebak-nebak. Kita boleh menduga-duga. Mengapa video itu tidak dikeluarkan pada saat rapat kabinet usai? Seperti rapat-rapat kabinet sebelumnya.

Mengapa setelah 10 hari kemudian baru dirilis  isi rekaman rapat kabinet?

Tentu syarat mutlak keluarnya isi rekaman kabinet berada di bawah kendali Presiden Jokowi langsung. Melalui Sekab atau Setneg.

Dalam politik, tidak ada yang terjadi secara kebetulan. Jika itu terjadi, anda dapat bertaruh hal itu pasti direncanakan.

Begitu kata Franklin D Roosevelt (1882-1945) Presiden AS ke-32.

Jika itu direncanakan, lalu apa tujuan diposting ke publik kemarahan Jokowi di hadapan para menterinya?

Ada yang mengatakan itu untuk melempar umpan untuk melihat reaksi sekutu Jokowi. Kita tahu di balik seorang menteri mewakili gerbong kelompok atau partai koalisi.

Ada yang bilang test water menuju reshuffle. Membaca bagaimana respon publik jika terjadi reshuffle.

Rumit ya. Memang politik bisa dibilang rumit. Penuh intrik. Deal-dealan. Lobby-lobby.

Ada juga yang main dua kaki. Ada juga kemungkinan pengkhianatan. Jilatan. Siasat.

Kekuasaan berpola begitu sejak zaman kekaisaran Romawi Julius Caesar.

Kita sebagai rakyat tidak sampai ke kamar gelap itu penglihatannya. Kita tidak punya kacamata tembus pandang yang bisa mengetahui siasat dan permainan orang-orang dalam kabinet.

Yang bisa kita lakukan sekedar memberi optik lain. Melihat dari kejauhan sekaligus memberitakan penglihatan kita itu. Mungkin bisa benar. Bisa juga keliru.

Apa yang terjadi hari ini tidak datang tiba-tiba. Apa yang kita tanam 9 bulan lalu, menentukan bibit tunas pohon yang kita lihat sekarang. Tidak mungkin kita tanam bibit sirih tapi berbuah semangka.

Saya mencoba flash back setahun lalu. Di awal-awal  Presiden Jokowi memilih wakilnya KMA.

Saat itu saya berharap wakil presiden adalah sosok yang kuat. Bisa mengimbangi ritme kerja keras dan stamina Jokowi.

Sejarah mencatat, harapan besar kita itu pupus. Jokowi memilih KMA.

Saya sempat lesu. Loyo. Letoy. Kehilangan harapan. Dalam hati membatin duhh bakal berat banget perubahan terjadi jika Wapresnya kurang mumpuni.

Tapi ya sudahlah. Pilihan Jokowi seburuk apapun harus dimenangkan. Kapal sudah melaju. Layar sudah dikembangkan. Tidak mungkin lagi diturunkan. Tidak ada jalan lain selain  ikut mendayung kapal pasangan Jokowi Amin ke pelabuhan kemenangan.

Pemilihan calon-calon menteri juga demikian. Asa publik membuncah pada sosok-sosok pribadi menteri yang punya rekam jejak hebat. Nama-nama itu berseliweran di beranda media sosial kita.

Apa yang terjadi?

Lagi-lagi kita terkejut. Kabinet Kerja Jilid 2 berani tampil beda. Ada Prabowo Subianto dan Edhy Prabowo diangkat jadi menteri baru Jokowi.

Koalisi Jokowi sempat gaduh. Ada yang pro ada yang kontra.

Nama-nama kalangan profesional yang dipilih Jokowi juga setali tiga uang. Wishnutama juga disorot kurang pas di posisi itu. Nama Nadiem Makarim sedikit mendapat ekspektasi tinggi di awal kabinet.

Nama Menteri Agama Fachrul Razi jauh dari harapan publik. Publik tadinya menaruh harap pada pensiunan jenderal ini. Terutama untuk melawan kelompok garis keras. Radikalisme.

Sayangnya yang terlihat jauh panggang dari api. Alih-alih membuat terobosan segar. Yang terasa malah menimbulkan kegaduhan baru.
Rencana memulangkan anggota ISIS ex WNI memantik kegaduhan panas. Jokowi yang ketiban getahnya.

Belum lagi kasus pelarangan pendirian Gereja Katolik di Karimun yang sudah dapat IMB. Sampai-sampai Presiden Jokowi harus turun tangan mengomentari kasus itu.

Hari ini, kita sebagai rakyat terus berharap. Kita terus berharap dan berharap. Sama seperti harapan kita di awal pemerintahan sebelum Jokowi mengumumkan nama menteri-menterinya. Kita berharap ada greget yang tampak. Ada sinyal harapan baru yang membuncah.

Apakah ada perubahan?

Lagi-lagi kita sebagai rakyat cuma bisa menanti dan menunggu dengan sabar.

Memang tidak mudah bagi Jokowi memilih the winning team. Ada tangan dan kakinya yang terikat kekuasaan lain. Wewenang kekuasaan yang dimilikinya tidak 100 persen dikendalikannya. Sekalipun UUD mengatakan itu hak prerogatif presiden. Realitasnya bisa jauh beda.

Tapi rakyat tentu tidak mau tahu dan peduli soal mekanisme dan isi jeroan di istana sana.

Bagi kita yang penting bagaimana kabinet kerja itu bekerja menjawab persoalan rakyat.

Rakyat punya rasa dan cara berpikiranya sendiri melihat keadaan ini. Mungkin dengan diam. Tapi diam bukan berarti tidak tahu dan tidak mau tahu.

Seperti harapan saya di awal Jokowi memilih wapresnya, saya masih berharap di kesempatan kedua ini Pak Jokowi tidak tersandera lagi dengan sekelilingnya.

Memang berat Pak. Kita tahu.

Tapi kita perlu obat yang manjur mengobati sakit penyakit ini. Dan obat yang manjur itu jika Pak Jokowi menemukan sosok yang tepat. Bukan malah membebani.

Reputasi Pak Jokowi dipertaruhkan. Bukankah tidak ada beban lagi seperti yang pernah Pak Jokowi katakan?

Ayo Pak De...gas poll...
Salam perjuangan penuh cinta