Breaking

logo

July 30, 2020

Ikan Lele sampai Sarekat Islam Pernah Jadi Konspirasi saat Pandemi Flu Spanyol 1918

Ikan Lele sampai Sarekat Islam Pernah Jadi Konspirasi saat Pandemi Flu Spanyol 1918
NUSAWARTA - Jauh sebelum menghadapi pandemi virus corona, dunia sudah lama dilanda wabah besar seperti Flu Spanyol pada 1918 silam.

Saat itu, informasi tak banyak bisa disebarkan untuk mencegah ataupun menghentikan penyebaran virus yang sangat cepat menular.

Akibatnya, teori-teori konspirasi dan hoaks meluas dengan mudah seperti pada masa pandemi Covid-19 akhir-akhir ini.

Menurut beberapa pakar, hoaks yang berkembang berbeda-beda pada setiap daerah.

Mulai dari ikan lele hingga organisasi massa Sarekat Islam menjadi 'korban' atas kabar-kabar bohong tersebut.

Ravando Lie, Kandidat Doktor Sejarah di University of Melbourne menyebut ikan lele dijadikan bahan hoaks oleh masyarakat di Desa Pagutan, Wonogiri.

"Beredar kabar bahwa ikan lele bisa dijadikan sebagai obat penangkal Flu Spanyol," tuturnya.

Kabar itu diyakini benar oleh masyarakat setempat dan menyebabkan penjualan ikan lele naik drastis.

"Ketika berita tersebut tersebar, stok lele ludes dari pasaran dan harganya pun melonjak berkali-kali lipat dan itu merembet sampai ke wilayah lain di Wonogiri," lanjut Ravando.

Setelah ditelusuri lebih jauh, ternyata informasi tersebut dibuat-buat oleh pedagang agar barang jualannya laris manis.

"Ketahuan bahwa ternyata itu hanyalah akal-akalan pedagang lele saja," ungkap Ravando.

Di Purwokerto, ada yang mencoba mengeruk keuntungan dengan mengumumkan bahwa dirinya bisa mencegah virus masuk ke dalam tubuh.

"Dengan mengklaim bahwa dia ditemui Nyi Roro Kidul sehingga misalkan mereka ingin diselamatkan, harus datang ke rumahnya untuk kemudian menyumbang dan mereka nanti didoakan atau sejenisnya," papar Ravando.

Di sisi lain, perpolitikan Indonesia juga dipengaruhi oleh hoaks-hoaks serupa.

Menurut Syefri Luwis, peneliti sejarah wabah dari Universitas Indonesia, kala itu Sarekat Islam menjadi korban dari kabar bohong ini.

Organisasi yang dicetuskan oleh Haji Samanhudi dan digelorakan oleh HOS Tjokroaminoto tersebut dijadikan bahan olok-olokan.

Bahkan, tak sedikit yang menuduhnya sebagai asal-muasal dan penyebab menyebarnya virus Flu Spanyol atau Spanish Influenza.

Biang keroknya hanya persoalan sepele, yakni mengenai singkatan yang serupa.

"Kan di berita-berita disebutkan SI (Spanish Influenza), cuma orang-orang menyebutnya, meledeknya dengna Sarekat Islam. Jadi, Sarekat Islamlah yang disalahkan di sana," ujar Syefri.

Sarekat Islam ketika itu, kata dia, memang sedang berkembang pesat dan mungkin menciptakan kecemburuan dari kelompok lain. Padahal, gerakan tersebut menjadi cikal bakal kebangkitan pergerakan di Indonesia. [pkry]