Breaking

logo

July 27, 2020

Pengamat: Apa Modal Gibran Jadi Wali Kota? Logikanya Dimana, Nggak Masuk Akal

Pengamat: Apa Modal Gibran Jadi Wali Kota? Logikanya Dimana, Nggak Masuk Akal
NUSAWARTA - Sejumlah pihak beranggapan bahwa pencalonan Gibran Rakabuming Raka di Pemilihan Wali Kota (Pilwalkot) Solo 2020 merupakan upaya Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk membangun dinasti politik.

Mengomentari hal itu, pengamat politik Arbi Sanit mengatakan, dinasti politik adalah sesuatu yang lumrah di dunia, bahkan terjadi juga di Amerika Serikat yang notabene sebagai negara rujukan demokrasi.

Sebagai contoh, Arbi menyinggung soal dinasti politik keluarga Kennedy. 

Ia mengatakan, setelah John Fitzgerald 'Jack' Kennedy atau terpilih sebagai presiden pada November 1960, dia mengajak adiknya Bobby Kennedy dan Ted Kennedy untuk menempati jabatan-jabatan penting di pemerintahan federal.

"Sebenarnya dinasti itu di negara demokrasi juga berjalan, seperti Kennedy misalnya, itu di negara biangnya demokrasi," kata Arbi kepada netralnews.com, Senin (27/7/2020).

Namun demikian, Arbi menyebut, sebelum keluarga Kennedy menempati jabatan- jabatan penting di AS, mereka telah dibekali dengan pendidikan yang baik, serta diarahkan sejak muda untuk berkarier sebagai abdi negara, baik sipil maupun militer.

"Tapi masalahnya adalah John Kennedy (Presiden AS ke-35) dan juga adik-adiknya itu pengalamannya segerobak, sekolahnya top, Harvard, lalu dia aktif di partai," ujarnya.

Dinasti Kennedy, menurut Arbi, berbeda jauh dengan dinasti yang ingin dibangun Jokowi lewat putra sulungnya, Gibran. 

Pasalnya, Arbi menilai, Gibran belum memiliki bekal apa-apa untuk menjadi pemimpin.

"Ini (Gibran) pengalaman juga nggak ada, sekolahnya apa, karir di politik juga tidak ada, lalu apa modalnya untuk memimpin ratusan ribu manusia di Solo?" ucap dia.

"Di situ (Solo) banyak orang yang berpengalaman segerobak, orang yang berpendidikan selangit, lah apa dia (Gibran) sudah pantas memimpin orang-orang itu? Logikanya di mana itu,  nggak masuk akal," sambungnya.

Arbi menambahkan, seharusnya calon kepala daerah adalah sosok yang arief, pendidikannya baik, rekam jejaknya sudah teruji, berpengalaman di birokrasi maupun politik.

"Harusnya yang memimpin itu orang yang arif, orang yang berpendidikan terbaik, yang berpengalaman di politik dan birokrasi, jadi yang terbaik itu yang harusnya jadi pemimpin," pungkasnya. 
[ntrl]