Breaking

logo

August 1, 2020

Ragam Kontroversi CEO Jouska, Diduga Memaki-maki Klien hingga Mengendalikan 3 Perusahaan Pengumpul Dana Nasabah

Ragam Kontroversi CEO Jouska, Diduga Memaki-maki Klien hingga Mengendalikan 3 Perusahaan Pengumpul Dana Nasabah
NUSAWARTA - Perusahaan perencana dan penasihat keuangan, PT Jouska Finansial Indonesia masih menjadi pembicaraan publik lantaran dituding telah merugikan kliennya hingga ratusan juta rupiah.

Dalam kasus yang membelit Jouska ada nama PT Amarta Investa dan PT Mahesa Strategis yang ikut terseret. Mereka adalah perusahaan yang bertindak sebagai manajer investasi yang mengelola dana klien dalam investasi saham di Bursa Efek Indonesia.

Aakar Abyasa Fidzuno, sebagai CEO Jouska juga tak lepas dari sorotan publik. Namanya terus dicari pasca permasalahan Jouska terangkat ke permukaan. Apalagi dikabarkan dia juga mempunyai hubungan erat dengan PT Amarta Investa dan PT Mahesa Strategis.

Bahkan hari ini (1/8/2020), namanya kembali ramai dibicarakan di media sosial Twitter, lantaran beredarnya rekaman diduga dirinya yang sedang memaki-maki klien. 

Lantas siapakah Aakar ini, dan hubungannya apa dengan kedua perusahaan tersebut?

Berdiri sejak 2013, Jouska diinisiasi oleh Aakar Abyasa Fidzuno. Bersama Jouska, Aakar menyasar generasi millennial. Ia menilai generasi millennial sebagai ‘anak krisis moneter’ yang masih minim pemahaman tentang keuangan. Mimpinya, ingin membuat millennial melek akan masalah finansial.

Dengan niat itu, Aakar bisa mengantarkan Jouska menjadi perusahaan konsultan keuangan terkemuka hanya dalam waktu tujuh tahun saja, terhitung sejak berdiri pada 2013. Nama Aakar semakin populer karena perusahaannya mendapat kepercayaan dan kerap diundang di berbagai seminar finansial.

Sukses dirikan Jouska Finansial Indonesia

Sebelum membangun Jouska, Aakar memang sudah bekerja di perusahaan financial advisor atau penasihat keuangan. Dikutip dari Young on Top, pria kelahiran Banyuwangi, 17 Desember 1985 ini sempat ingin berhenti dari industri finansial dan membangun bisnis.

Namun hal itu urung ia lakukan setelah bertemu dengan seorang perempuan yang terjebak investasi bodong. Hal itu semakin membuat Aakar geregetan untuk, sekali lagi, membuat banyak orang terutama generasi muda ‘melek keuangan’. Dari sinilah Aakar akhirnya mendirikan Jouska di 2013.

Pada masa awal pendirian Jouska, Aakar menjadikan sebuah ruko sederhana di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, sebagai kantor. Di tempat itu, ia mulai melayani beberapa klien dalam partai kecil.

Pada 2015, Aakar mulai menggandeng banyak rekan sesama perencana keuangan untuk mengembangkan Jouska. Mereka ini, yang mayoritas adalah kolega Aakar dari daerah, punya PR besar untuk mencari klien dan memperluas jaringan Jouska di Jakarta.

Memasuki tahun ketiga, Aakar dan rekan-rekannya di Jouska hanya bertahan dengan 5 klien saja. Dimana salah satu dari klien itu membawa 30 referral client. Hal itu dicapai melalui strategi yang diterapkan Aakar, yakni membangun jaringan dengan prinsip ‘genuine human connection comes first’.

Dan strategi itu amat moncer, hingga membuat nama Jouska sukses berkibar sebagai salah satu firma penasihat keuangan paling populer di Indonesia.

Jadi Komisaris PT Amarta Investa Indonesia

Berdasarkan dokumen profil perusahaan yang terdaftar di Direktorat Jenderal Administrasi Hukum Umum (Ditjen AHU) Kementerian Hukum dan HAM, CEO Jouska Aakar Abyasa Fidzuno yang merupakan CEO Jouska Finansial Indonesia ternyata juga merupakan Komisaris PT Amarta Investa Indonesia.

Aakar menjabat Komisaris dan menjadi pengendali saham mayoritas dengan jumlah sebanyak 216 lembar saham dan total Rp216 juta, dengan akta tertanggal 12 Februari 2018.

Adapun Amarta Investa berdiri pada 2 Juni 2017. Dalam dokumen itu disebutkan, perusahaan berdiri dengan unit usaha perdagangan, industri pengolahan, transportasi serta informasi dan komunikasi.

Pemegang saham mayoritas PT Mahesa Strategis

Dari dokumen profil perusahaan PT Mahesa Strategis di Ditjen AHU mengungkap bahwa Aakar juga Komisaris di PT Mahesa Strategis.

Dia menjadi pemegang saham mayoritas dengan saham sebanyak 350 lembar jumlah saham dan total sebesar Rp350 juta. Mahesa Strategis berdiri pada Januari 2019 lalu.

Mengontrol tiga perusahaan sekaligus

Jumlah kepemilikan saham lebih dari 50 persen praktis membuat Aakar menjadi pemegang saham mayoritas. Dengan porsi itu juga, ia mengendalikan dua perusahaan itu. Menariknya, 2 perusahaan yang jadi perpanjangan tangan Aakar justru sudah lebih dulu ada. PT Jouska justru memiliki akta tertanggal 13 Mei 2020.

Apalagi di Jouska, Aakar menjabat sebagai direktur utama memegang saham mayoritas dengan porsi 94 persen dari total modal awal Rp3 miliar.

Meskipun Satuan Tugas Waspada Investasi (SWI) OJK sendiri belum mengendus keterikatan Jouska, Amarta, dan Mahesa dan menyebut hubungannya hanua sebatas “kerja sama" pengelolaan dana nasabah yang mirip manajer investasi.

Namun, pengumpulan dana dilakukan melalui dua perusahaan lain, yang dikendalikan oleh orang yang sama, yakni Aakar Abyasa. [akrt]