Breaking

logo

August 2, 2020

Tentang Kebijakan 'Efek Kejut' ala Anies yang Diungkit Jelang Ganjil Genap

Tentang Kebijakan 'Efek Kejut' ala Anies yang Diungkit Jelang Ganjil Genap
NUSAWARTA - Pemberlakuan ganjil genap dikhawatirkan mengulang kebijakan pembatasan transportasi umum pada Maret 2020 lalu. 

Kala itu, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan kebijakan itu diambil untuk memberi 'efek kejut'.

Pada 15 Maret 2020 lalu, Anies membuat kebijakan membatasi transportasi massal seperti TransJakarta, MRT dan LRT. 

Akibatnya, pada keesokan harinya antrean luar biasa pada moda transportasi tersebut pun tak terelakkan. 

Alih-alih social distancing demi mencegah penyebaran virus Corona, justru kerumunan yang didapatkan akibat pembatasan transportasi publik itu.

Di hari yang sama, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan bahwa transportasi umum harus tetap disediakan dan antrean dikurangi.

"Baik itu kereta api, bus kota, MRT, LRT bus Trans, yang penting bisa mengurangi tingkat kerumunan, mengurangi antrean dan mengurangi tingkat kepadatan orang di dalam moda transportasi tersebut sehungga kita bisa menjaga jarak satu dengan lainnya," kata Jokowi dalam konferensi pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (16/3/2020).

Malam harinya, Anies pun mencabut kebijakannya. 

"Sesuai arahan Presiden terkait penyelenggaraan kendaraan umum massal untuk masyarakat, maka kami kembali menyelenggarakan dengan frekuensi tinggi untuk penyelenggaraan kendaraan umum di Jakarta," kata Anies di Balai Kota kala itu.

Dalam video rapat teknis percepatan penanganan COVID-19 pada Senin (16/3), Anies mengungkap alasannya melakukan pembatasan. 

Dia mengatakan ingin memberi 'efek kejut' kepada masyarakat dalam menghadapi virus Corona.

"Tadi pagi kendaraan umum dibatasi secara ekstrem, apa sih tujuannya? Tujuannya, mengirimkan 'pesan kejut' kepada seluruh penduduk Jakarta bahwa kita berhadapan dengan kondisi ekstrem. Jadi, ketika orang antre panjang, 'Oh iya COVID-19 itu bukan fenomena di WA (WhatsApp, red) yang jauh di sana. Ini ada di depan mata kita.' Kalau kita tidak kirim pesan efek kejut ini penduduk di kota ini masih tenang-tenang saja, yang tidak tenang ini siapa yang menyadari ini," kata Anies.

Kebijakan 'efek kejut' ini kembali disorot Ketua Fraksi Golkar DKI, Basri Baco, jelang pemberlakuan ganjil genap esok hari. 

Dia menduga bisa saja dampak ganjil genap ini seperti saat pembatasan transportasi Maret lalu.

"Bisa terjadi Anies mengulangi kesalahan yang sama terkait dulu membatasi TransJakarta dan kereta tanpa memikirkan, mengeluarkan aturan bagi para karyawan dan pengusaha," kata Basri Baco saat dihubungi, Minggu (3/8/2020). [dtk]